11 February 2008

draft cerpen tugas

Aku berada di tepi sebuah kolam renang yang terletak di sebuah klub olah raga antara rumahku dan sebuah supermarket franchise yang cukup terkenal. Aku pun bingung mengapa aku bisa berada di tempat itu karena aku sama sekali tidak bisa berenang dan tidak pernah terlintas di benakku kalau aku akan pergi ke tempat itu. Tiba-tiba aku didorong oleh seseorang sehingga aku pun tercebur, anehnya badanku tidak basah sama sekali malah pipiku terasa panas dan sakit.


“Aaaaaaaawwwwww!” teriakku. Akhirnya aku terbangun dari tidur lelap yang menghasilkan sebuah mimpi aneh tersebut. Kakak sudah duduk di sebelahku sambil memegang pipiku yang baru saja dia cubit keras sekali. Aku langsung berseteru dengan kakak, hal yang biasa kulakukan dengannya setiap hari. Akhirnya ia pasrah dan menghidupkan radio dengan volume keras berharap agar aku terbangun lalu keluar dari kamar. Sayangnya harapan kakak tidak terjadi, yang terdengar dari radio hanya alunan lembut lagu Say It All dari Sondre Lerche yang membuatku teringat ke sebuah masa di mana lagu tersebut sering terdengar dan diputar.


Saat itu aku sedang berjalan sendirian di lorong lantai empat sebuah sekolah di kawasan Bintaro. Aku merasa ada yang mengikuti atau memperhatikanku dari kejauhan. Aku memang anak yang penakut jadi aku bersugesti itu adalah hantu sehingga aku tidak mau berbalik badan.

“Kak Ira yang baik minta tanda tangan dong!” teriak seorang adik kelas dari belakang, teriakan itu sangat mengagetkanku. Ira, itulah namaku. Saat itu aku masih kelas 9 SMP, ya bisa dibilang masa itu adalah masa kejayaanku saat di SMP dan alasannya jelas karena tidak ada kakak kelas. Saat itu aku masih menjabat sebagai bendahara OSIS dan sedang melaksanakan tugas sebagai panitia Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut MOS atau OSPEK. Pada acara tersebut aku dikenal sebagai kakak yang baik dan tidak suka berbuat iseng terhadap adik-adik kelas yang baru masuk. Sudah tradisi kalau di hari terakhir MOS adik-adik yang baru masuk meminta tanda tangan semua anggota OSIS. Dengan baiknya aku memberi tanda tanganku kepada nyaris dari seluruh peserta MOS secara cuma-cuma tanpa syarat.

Sehabis acara tersebut aku mendapat SMS dari seorang adik kelas yang baru saja kutemui tadi pagi saat MOS berlangsung. Yah walaupun aku tidak bisa mengingatnya tetapi aku bisa mencoba menghafalnya satu per satu. SMS itu berisi ajakan berkenalan dengannya. Anak ini aneh juga pikirku. Untuk menjaga pandangan baik dari adik kelas terhadapku ya sudah ikuti saja kemauannya. Anak itu bernama Yanda. Orangnya sangat baik dan menyenangkan.

Tidak disangka ternyata perkenalan itu punya sebab tersendiri. Tama seorang teman sekelasku mengatakan kalau Yanda sedang mendekatiku untuk menjadi pacarnya. Aku pun terbingung-bingung sendiri, aku tidak mau berpacaran dengan adik kelas. Suatu hari Tama memberi ide agar aku berpura-pura pacaran dengan teman seangkatanku yang bernama Dewo. Ide ini dimaksudkan untuk mengelabuhi Yanda. Aku pun berpikir itu adalah ide yang bagus sehingga aku terima saja tawarannya.

Anehnya cara itu berhasil dengan mudahnya. Yanda tertipu dan tidak mendekatiku lagi. Bisa dibilang saat itu perasaanku sangat lega. Pacaran pura-pura antara aku dan Dewo pun tetap berlangsung untuk mencegah Yanda mendekatiku lagi, tetapi dengan kontrak yang jelas yaitu jika salah satu dari kami sudah menemukan orang yang baik dan cocok satu sama lain, maka kami akan berpura-pura putus.

Aku dan Dewo berpura-pura pacaran sampai setengah tahun. Selama itu pula adik-adik kelasku tertipu. Hubunganku dengan Dewo pun semakin membaik, padahal saat kelas 8 aku adalah musuh besar Dewo. Tidak terpikir sedikit pun hubunganku dengan Dewo akan sebaik ini. Hampir setiap hari aku SMSan dengannya.

Pada suatu hari aku ditanyakan oleh salah seorang temanku bernama Dhanis tentang Dewo.

“Ra, kamu nggak benar-benar berpacaran dengan Dewo kan?” tanya Dhanis.

“Hmm. Nggak Dhan. Ada apa memangnya kamu bertanya seperti itu?” aku malah berbalik tanya.

“Hati-hati loh. Nanti kamu malah benar-benar suka dengan Dewo.” jawab Dhanis datar. Sehabis itu dia langsung pergi.

Tentu saja hatiku mencelos mendengar pernyataannya. Aku memang berpikir kalau ternyata Dewo itu anak yang baik dan periang tetapi aku tidak pernah berpikir kalau aku atau dia akan menyukai satu sama lain. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang aku rasakan setiap kali aku berbicara dengan Dewo.

Hal ini berlangsung cukup lama sampai pada suatu hari ketika perasaanku sangat campur aduk. Saat itu aku sedang bermain di rumah Anin, tentu saja bersama Dewo. Tiba-tiba Anin sakit dan perlu istirahat sehingga kami hanya bermain bertiga, aku, Dewo, dan Putra. Lama kelamaan Putra pun mengantuk dan tidur beralaskan karpet di kamar Dita. Sekarang aku hanya berbicara berdua dengan Dewo. Kami pun menyalakan radio untuk mengisi keheningan itu dan terdengar lagu Say It All dari Sondre Lerche, sebuah lagu yang cukup populer dan sering diputar di radio.

Dewo pun memulai percakapan, “Ra, kamu pernah nggak berpikir kalau kita terlalu dekat sebagai teman?”

Hatiku berdegup sangat kencang saat itu. Dewo mengeluarkan beberapa pertanyaan yang sangat sulit dijawab bahkan mengingatnya saja sudah sulit. Bisa dibilang percakapan itu adalah salah satu percakapanku yang paling serius seumur hidup. Tanpa sadar saat itu terlewati dengan cepat dan mengubah sebagian dari hidupku. Mulai detik itu aku mempunyai seorang pacar, pacar pertamaku sejak 14 tahun aku menginjakkan kaki di bumi ini.

Awalnya memang sangat menyenangkan karena aku mempunyai teman yang lebih dari sekedar teman. Akan tetapi lama kelamaan pacaran menjadi hal yang sangat rumit, setiap peristiwa ada saja masalahnya. Aku sadar bahwa aku belum siap untuk semua ini. Cepat atau lambat mungkin hubungan yang lebih ini akan berakhir. Benar saja sekarang janji kami sudah berbeda dari yang dulu. Sekarang kami menapaki masa-masa dimana segala hal yang kami lakukan akan menjadi kenangan yang lebih kekal daripada hubungan berstatus yang disebut pacar. Kami tidak pernah bermaksud menjalani hidup kami masing-masing dan bukan juga menghilangkan perasaan yang dulu kami rasakan. Sekarang kami bisa lebih terbuka satu sama lain sebagai sahabat.


*kritik: kok cerpennya garing abis? haha anti klimaks. emang ga berbakat deh gw soal cerpen REMAJA kyk gitu. wahaha tobat. enakan dikasih judul apa ini? 'Kenangan yang terulang' bagus ga?

No comments: