Malam itu aku hanya duduk termenung sendiri di dalam kamarku yang mungil. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari radio yang sengaja kukeraskan suaranya, aku semakin tenggelam di dalam renunganku. Banyak permasalahan yang sedang bersarang dikepalaku tentang nilai-nilaiku yang hancur lebur, tentang kakakku yang selalu mengganggu, tentang temanku yang bersumpah tidak mau berbicara lagi denganku, dan juga tentang telingaku yang sudah panas karena telepon genggam.
Telepon genggamku memang menempel di telingaku, tetapi tidak ada suaranya. Awalnya, aku hanya berbicara panjang lebar mengenai salah satu masalahku di sekolah, lama-kelamaan tidak ada jawaban lagi darinya. Aku sudah setengah berteriak agar menarik perhatian lawan bicaraku dan masih tidak ada suaranya. Angka 20 menit lebih beberapa detik tertera di layar telepon genggamku yang sampai sekarang tidak bersuara tersebut. Yah, sudahlah mau bagaimana lagi, mungkin ia tertidur sambil mendengarkan celotehanku yang membosankan atau mungkin juga ia sedang asyik bermain game atau entahlah.
”Wah, betapa sabarnya diriku!” kataku. Aku bergumam sendiri dan kembali melanjutkan lamunanku, mungkin juga sudah setengah tertidur sambil bermimpi. Yah, semoga saja mimpiku indah. Hmm, ternyata tidak juga, baru 5 menit aku langsung terjaga kembali, mimpi memang tidak selalu seindah yang diharapkan, begitu juga kehidupan. Sebuah kenyataan tentang kehidupanku saat ini, aku masih menunggu adanya suara dari lawan bicaraku di sambungan telepon itu, memang tidak seindah yang kuharapkan.
Pikiranku sekarang dibelenggu oleh seberkas kenangan dan harapan. Aku bertanya-tanya apakah ia masih merasa nyaman didekatku, apakah ia masih hangat seperti dulu, dan yang paling penting apakah ia masih mau menjadi pendengar setiaku saat aku menceritakan segala impian konyol yang ada di dalam kepalaku. Ironis memang, aku hanya bisa berpikir dan berharap semua akan baik-baik saja. Akan tetapi, aku tetap tidak bisa membuang pikiran negatif ini.
Haaaaah, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan sekeras-kerasnya. Sudah lama aku tidak berpikir sekeras ini tentang sisi kehidupan kelamku, biasanya aku hanya menjalani kehidupanku begitu saja sesuai jadwal yang ditentukan dan berusaha untuk bersenang-senang tiap harinya.
”Halooooooo!” teriak lawan bicaraku yang selama ini kutunggu. Aku kaget, segala lamunanku selama 30 menit itu langsung buyar dan berganti menjadi harapan yang baru, semangat yang baru. Untungnya semua yang kupikirkan tadi hanya sekedar pemikiran aneh yang bersarang di kepalaku. Ia hanya tertidur sedangkan aku hanya berpikiran terlalu negatif. Saat itu aku langsung meminta maaf kepadanya dan ia bingung. Ya, tentu saja ia kebingungan. Aku lega sekaligus kesal. Bisa-bisanya ia tertidur saat aku sedang berbicara panjang lebar tentang permasalahanku, sedangkan ia tidur dengan damainya. Setidaknya hidupku sampai sekarang masih berjalan normal seperti biasa dan semoga akan selalu indah serta menyenangkan nantinya.
* sama seperti post-an sblmnya, ini dibuat hanya untuk sekedar tugas, sebuah cerpen yang dilandaskan oleh kisah nyata. kisah nyata yang sebenarnya lebih kompleks atau mungkin juga lebih sederhana dibandingkan cerita di atas
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment